Posturnya tegap,
suaranya lantang, mentalnya sekuat baja. Dia adalah Rio Maholtra, pemuda
kelahiran Lahat, 28 Desember 1993 yang saat ini bertugas sebagai atlet
sekaligus anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Rio sudah
mengenal atletik saat duduk di bangku sekolah dasar. Tepatnya kelas 3 SD, ia
keluar sebagai juara 2 ketika diadakan lomba lari di sekolahnya. Gurunya terpikat
dengan bakat dan kemampuan Rio. Setahun berikutnya, nama Rio Maholtra
didaftarkan pihak sekolah untuk ikut dalam Pekan Olahraga dan Seni (Porseni)
tingkat SD. Ia pun keluar sebagai juara dalam nomor estafet.
Namun saat ada
seleksi tingkat nasional dan yang terpilih bakal dikirim ke Jakarta, bocah
Sumatera Selatan itu malah tidak lolos. Momen itu tidak akan pernah ia lupakan
karena ia sampai dibuat frustrasi karenanya. Naik ke kelas 5 SD, Rio Maholtra
berhenti latihan atletik.
Sejak kecil, Rio
sudah bercita-cita sebagai tentara. Dia sama sekali tidak berniat menjadi
atlet. Ikut kejuaraan lari pun karena disuruh oleh gurunya di sekolah. Namun ia
sadar, masuk tentara butuh biaya yang tidak sedikit. Ia lahir dari sebuah
keluarga yang serba berkecukupan. Jika ingin sukses, ia mesti punya kemampuan
sendiri dan ia mulai melirik atletik sekali lagi.
Suatu hari, ia
mengikuti Pekan Olahraga Antar Daerah (Popda) tingkat SMP. Seorang guru
sekaligus pelatih atletik bernama Pak Leman datang menghampiri Rio ketika
sedang berlatih di lapangan. “Wah postur kamu bagus. Tinggi. Kamu cocok turun
di nomor lari gawang.” Ujar sang pelatih kepada anak asuhnya. Sejak hari itu,
Rio terus diasah untuk berlari melewati gawang-gawang sebagai rintangan. Bahkan
hingga hari ini, Rio Maholtra akrab dengan lari gawang dan akan turun di nomor yang
sama pada Asian games 2018.
Lomba demi lomba
Rio ikuti, latihan demi latihan Rio jalani. Pihak keluarga melihat potensinya
dan membujuk sang anak agar lebih berkonsentrasi dalam bidang olahraga. Orang
tuanya ingin sang anak masuk ke Sekolah Olahraga Sriwijaya (SOS) di Palembang.
Sang anak pun
setuju, tetapi kendala muncul. Perjalanan dari Lahat ke Palembang tidak
sebentar. Butuh waktu sekitar tujuh jam perjalanan darat. Selain membuang
banyak waktu, juga banyak biaya yang keluar. Beruntung, masih ada saudara di
Palembang. Rio pun diasuh oleh kakak dari pihak ibunya (wawa) selama berada di
sana. Sejak saat itu, Rio sudah jauh dari keluarganya. Ia sangat menyadari hal
itu, tetapi tetap dilakukan demi cita-citanya masuk tentara.
Latihan di
Palembang, ternyata tidak berjalan mulus. Rio mengaku sering mengalami cedera
sehingga membuatnya absen dalam berbagai kejuaraan penting. Beruntung masih ada
kejuaraan atletik remaja pada 2009. Ia mengincar ajang itu untuk menyelamatkan
cita-citanya.
Rio tidak peduli
panas terik dan hujan yang mengguyur. Di kepalanya hanya ada lomba lari,
memulihkan cedera, dan menyalakan sedikit cita-citanya untuk masuk tentara.
Usaha keras yang dilakukannya pun berhasil. Rio keluar sebagai juara 2 dalam
ajang itu. Namun bukan hanya itu saja kabar baiknya.
Pak Kadir, guru
sekaligus pelatih Rio Maholtra, mengenalkan anak asuhnya kepada Tigor Tanjung
(saat ini menjabat sebagai Sekretasi Jenderal PB PASI). “Nih ada atlet punya
postur bagus, tinggi, tapi tidak terlalu cepat,” ujar sang pelatih dengan
dialek Sumatera Selatan yang khas. “Ah gampang itu bisa dilatih. Yasudah, bulan
sepuluh masuk ya. Bawa dia ke Jakarta,” jawab Pak Tigor.
Terhitung mulai
awal 2010, nama Rio Maholtra resmi berada di bawah naungan PASI (Persatuan
Atletik Seluruh Indonesia). Tentu saja Rio bangga. Namun rasa bahagia itu belum
lengkap mengingat keinginannya untuk jadi tentara belum juga padam.
Mimpi itu
terwujud dua tahun setelahnya. Tepatnya pada kejuaraan PON di Riau, Rio sanggup
memenuhi target naik podium. Sesaat setelah melewati garis finish, ia dihampiri
oleh seseorang dengan seragam khas tentara.
“Tadi juara ya
dek?” tanya orang itu kepada Rio.
“Iya pak,” jawab
Rio dengan nafas yang masih tersengal.
“Kelas berapa
sekarang?”
“Sudah mau tamat
pak kelas 3 SMA.”
“Oh terus mau ke
mana?”
“Mau kuliah pak”
“Nggak mau masuk
tentara?”
Percakapan itu
begitu singkat tapi sangat berkesan bagi Rio. Ternyata seseorang yang
menghampiri Rio merupakan tentara berpangkat kolonel. Namanya adalah Kolonel
Hamzah yang memang sering merekrut atlet-atlet berprestasi untuk menjadi
tentara.
Proses demi
proses Rio jalani sepenuh hati. Sampai kemudian namanya terpilih sebagai
anggota Paspampres yang baru. Hari itu, perasaan Rio berbunga-bunga. Akhirnya
cita-citanya pun terwujud.
Menjalani dua
profesi sekaligus ternyata tidak mudah. Pernah suatu ketika Rio bertugas untuk
mengawal Presiden RI dalam KTT Asean 2014 di Myanmar. Lantas ia mengaku
kesulitan karena menjadi Paspampres kurang tidur, sementara jadi atlet jam
tidur sangat ketat dan terkontrol. Ketika ia bisa tidur 8 jam sehari saat
pelatnas, ia tidur hanya 2 jam saja saat menjadi Paspampres. Sejak hari itu,
Rio ditarik kembali oleh PB PASI untuk mengikuti latihan sebagai atlet tanpa
harus menanggalkan pangkatnya di Paspampres.
Kini, Rio sedang
fokus menatap Asian Games 2018. Ia mengaku sudah siap secara fisik dan mental.
“Latihan secara fisik sudah dilakukan maksimal terus secara mental saya sudah
siap, teknik latihan juga sudah cukup bagus masuk 90 persen. Kalau harapan saya
pribadi ingin perbaiki catatan rektor nasional, terus secara umum sama seperti
atlet yang lain, saya ingin raih medali emas,” kata Rio dengan penuh semangat.

